Rabu, 01 Juni 2011

PENDIDIKAN KETERAMPILAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN



Abstrak Al-Quran sangat mementingkan keterampilan. Keterampilan dalam Al-Quran mencakup banyak hal, mulai dari keterampilan berbahasa, berfikir, ekonomi, berperang, dan sebagainya. Keterampilan diperoleh setelah melalui pendidikan dan latihan dan diiringi dengan kesabaran, keuletan dan ketekunan. Al-Quran mengungkapkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang paling terampil dalam pekerjaannya ( ahsanukum ‘amala (al-Mulk/67: 2)
Kata kunci: pendidikan, keterampilan, al-quran, kemaslahatan, berbahasa, berfikir, ekonomi, berperang.<!--more-->
PENDAHULUAN
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menerima amanah Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ia telah diciptakan dengan sebaik-baik bentuk dan kejadian, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Tin ayat 4 yang artinya: Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Manusia juga dibekali dengan bermacam-macam potensi untuk dapat mengolah alam sesuai dengan amanah Allah. Sumber daya alam yang disediakan Allah, umumnya mentah. Manusia harus berfikir dan bekerja keras memanfaatkan dan mengolah alam menjadi siap pakai.
Hampir semua orang mengetahui bahwa untuk meraih kemenangan di dunia global ini sangat penting sekali menguasai sains dan teknologi, serta keterampilan. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa dalam penguasaan sains, teknologi, dan keterampilan harus berlandaskan iman dan keyakinan yang benar, sehingga keterampilan itu tidak dipergunakan pada hal-hal yang dimurkai Allah. Kasus yang sering terjadi sekarang, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, keterampilan digunakan untuk merusak bumi, seperti pengeboman terhadap suatu negara, merusak hutan, dan lain sebagainya. Jadi, terampil saja belum cukup bila tidak dilandasi dengan agama. Keterampilan yang tidak agamis akan menjadi bumerang bagi pemiliknya bahkan alam sekitarnya.
Untuk itu, tulisan ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan; pengertian, keterampilan yang dilandasi agama, jenis-jenis keterampilan dalam al-Quran.
PENGERTIAN
Pendidikan keterampilan adalah dua kata yang digabung menjadi satu yang terdiri dari kata pendidikan dan keterampilan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. (Ramayulis, 2006: 13)
Sedangkan keterampilan berasal dari akar kata terampil, yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu, dan cekatan. Selain itu, keterampilan juga berarti kecakapan untuk menyelesaikan tugas. (DEPDIKBUD, 1996: 1043).
Jadi, pendidikan keterampilan dapat diartikan dengan upaya seseorang untuk  mengembangkan potensi dirinya, baik jasmani maupun rohani untuk cakap melaksanakan tugas, dan profesional dalam bidangnya, berfikir sistematis, punya kreasi yang tinggi untuk kehidupan yang lebih sempurna.
Pendidikan keterampilan pada prinsipnya adalah pendidikan yang melibatkan semua potensi yang ada pada jasmani dan rohani. Dari segi jasad, karakteristik manusia memiliki dorongan untuk berkembang, mempertahankan diri dan berketurunan. Dari segi rohani, manusia memiliki keutamaan dari makhluk lainnya, karena Allah menyempurnakan kejadian manusia dengan meniupkan roh kepada jasadnya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Hijr/15:29, artinya sebagai berikut; Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiaanya dan telah meniupkan ke dalamnya  roh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
Pendidikan keterampilan perspektif al-Quran adalah pendidikan jasmani dan rohani setiap individu agar cakap dalam mengemban tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi, dan mendekatkan diri kepada-Nya, berfikir sistematis serta cakap dalam mengaktualisasikan diri dengan bermacam-macam keahlian, sebagaimana yang telah dikisahkan oleh al-Quran tentang kehidupan para Rasul dan salafus shaleh.
JENIS-JENIS KETERAMPILAN
Keterampilan hidup (life skill) berawal dari pemikiran tentang hasil belajar, penguasaan berbagai potensi dasar, rumpun belajar, kompetensi lintas kurikulum dan kompetensi tamatan. Keterampilan hidup yang diperoleh melalui berbagai pengalaman belajar.
Keterampilan hidup terdiri dari:
  1. Keterampilan Diri (Personal)
  2. Keterampilan Berfikir Rasional
  3. Keterampilan Sosial
  4. Keterampilan Akademik
  5. Keterampilan Vokasional (Ramayulis, 2006, )
Keterampilan diri (personal) meliputi penghayatan sebagai makhluk Allah SWT dalam bentuk iman dan takwa. Penghayatan yang dilakukan berulang-ulang dan mendalam akan menghasilkan keterampilan beriman dan bertakwa kepada-Nya. Keterampilan diri juga mencakup kepintaran dalam memotivasi prestasi yang berawal dari dalam diri seseorang untuk melakukan bermacam-macam aktifitas dalam mencapai tujuan, mempunyai komitmen yang tinggi, dan tidak mudah goyah. Selain dari itu, keterampilan diri menjadikan seseorang confident dengan apa yang ditampilkan, karena telah dipersiapkan sebelumnya, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan untuk itu, mandiri, jujur, amanah, tidak tergantung pada orang lain, dapat melaksanakan tugas secara baik, tidak dengan rekayasa serta dapat dipertanggungjawabkan, punya keberanian dan keahlian untuk menyampaikan kepada orang lain dengan cerdas (tabligh dan amanah). (Sumardi Surya Brata: 2005, 70)
Keterampilan berfikir rasional, yaitu keterampilan berfikir kritis dan logis, dengan aktifitas yang abstrak kepada arah yang ditentukan oleh permasalahan yang harus dipecahkan. Berfikir sistematis, berurutan secara tertib dan runtut yang diawali dengan susunan rencana yang matang, tidak tumpang tindih. Bila ditemukan kendala dapat memecahkan permasalahan tersebut dengan baik.
Keterampilan sosial yaitu keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan. Komunikasi yang dapat dipahami oleh pembaca dan pendengar dari strata bawah, menengah, dan akademis, baik secara langsung atau melalui media cetak dan elektronik. Di samping itu, juga terampil bekerja sama dengan mitra kerja, atau orang lain, dan bersedia memperbaiki kesalahan, juga terampil mengadakan lobi-lobi dengan orang lain untuk meng”gol”kan suatu program. Termasuk di dalamnya terampil dalam mengelola konflik, beda pendapat, diskusi, dan lain-lain, terampil mempengaruhi orang lain untuk dapat mendukung idenya.
Keterampilan akademik meliputi berfikir, merancang suatu kegiatan, melaksanakannya sesuai dengan skenario, melaporkan hasil kerja secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Keterampilan akademik juga cekatan dalam menyusun karya tulis ilmiah, baik untuk tingkat SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi, serta masyarakat umum, dapat membentuk opini pembaca sesuai dengan yang diharapkan.
Keterampilan vokasional adalah keterampilan yang berhubungan dengan model, prinsip, dan prosedur dalam mengerjakan suatu tugas. Artinya terampil menciptakan produk sesuai dengan konsep, prinsip, prosedur, serta media yang disediakan.
Semakin tinggi kecerdasan suatu bangsa, semakin banyak pula jenis keterampilan yang ditekuni orang. Keterampilan yang disaksikan pada hari ini lebih berkembang dari zaman-zaman sebelumnya, seperti keterampilan mendesain bangunan, keterampilan memahat, mengembangkan agro pertanian, agro bisnis, kelautan, dan lain sebagainya. Keterampilan yang banyak itu dipengaruhi oleh bakat, pembawaan,  lingkungan serta iklim tempat seseorang berdomisili.  Allah berfirman dalam QS. Bani Israil/17: 84 yang artinya: ”Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing” dan firman Allah dalam QS. Al-Lail/92: 4 yang artinya: ”Susungguhnya usahamu bermacam-macam”. Agaknya, Allah SWT ingin menekankan bahwa segala perbuatan manusia berbeda-beda sifat dan bentuknya. Di antaranya ada yang baik dan ada yang buruk, serta ada yang bermanfaat dan ada membahayakan. (Muhammad Abduh: 1998, 199).
Dari segi tujuan, keterampilan ada dua macam. Pertama: keterampilan yang bertujuan untuk kemashlahatan dan kepentingan orang banyak. Kedua: keterampilan yang bertujuan untuk kemashlahatan diri sendiri dalam rangka melangsungkan kehidupan individu dan dipergunakan untuk menafkahi dirinya sendiri.
Keterampilan untuk memperoleh kemashlahatan ini telah digambarkan dalam al-Quran seperti yang dimiliki oleh kaum ’Ad,  mereka mampu membangun rumah tempat tinggal mereka dari sumber daya alamnya yang terdiri dari bukit batu, lalu mereka pahat sampai menjadi tempat berlindung yang nyaman bagi mereka dan keluarganya. Kaum ’Ad sudah mempunyai keahlian yang tinggi dalam pahat memahat batu, hidup mereka makmur dengan pertanian dan arsitek. (Fakhruddin HS, 1992: 9)
KETERAMPILAN DALAM AL-QURAN
Kata yang berarti khusus keterampilan tidak ditemukan dalam ayat al-Quran, tapi yang semakna dengan kata keterampilan cukup banyak, seperti kata ’amalan (عملا), sa’yan (سعيا) , shan’an (صنعا), dan lain sebagainya.
Keterampilan-keterampilan yang digambarkan dalam al-Quran meliputi: keterampilan berbahasa, keterampilan berfikir, keterampilan ekonomi, dan keterampilan berperang.
  1. KETERAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa adalah kesanggupan pemakai bahasa untuk menanggapi secara betul stimulus lisan dan tulisan, menggunakan pola gramatikal, dan kosa kata secara tepat, menerjemahkan dari suatu bahasa ke bahasa yang lain. (DEPDIKBUD, 1996: 1043).  Ada empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak (al-istima’), membaca (al-qira’ah), berbicara (al-takallum), dan menulis (al-kitabah). Jadi, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi keterampilan dalam menyampaikan ide kepada orang lain, bahasa isyarat, bahasa diam (dalam hati), memperhatikan lawan bicara – yang merupakan nilai islami dan tingkah laku yang manusiawi-, keterampilan memberi komentar terhadap pembicaraan orang lain, keterampilan memahami teks, serta keterampilan menyampaikan pikiran melalui tulisan.
Keterampilan berbahasa juga mencakup keterampilan dalam menyampaikan ide kepada orang lain, baik kepada lawan bicara yang berhadapan secara langsung (face to face) ataupun tidak, serta kemampuan menyesuaikan bahasa yang digunakan (komunikatif) dengan lawan bicara (mukhatab), sehingga pembicaraan mudah dipahami.
Paling tidak ada enam model keterampilan dalam menyampaikan ide kepada mukhatab yang digambarkan oleh al-Quran:
  1. Menyampaikan ide dengan qaulan sadidan/perkataan yang benar (QS. Al-Ahzab/33: 70); adalah bahasa yang bersifat universal, berlaku untuk semua objek audiens, karakter bahasa yang digunakan harus benar dari sudut agama.
  2. Menyampaikan ide dengan qaulan karîman/perkataan yang mulia (QS. Al-Isra’/17: 23); adalah bahasa kepada orang tua atau orang-orang yang lebih senior, bahasa yang digunakan harus mudah dipahami, tidak menggurui, dan ekspresi wajah, sikap tubuh serta intonasi suara yang sopan.
  3. Menyampaikan ide dengan qaulan balîghan/perkataan yang membekas di hati (QS. Al-Nisa’: 63); adalah bahasa kepada orang munafik/ kafir, orang berpenyakit hati lagi mahir logika, bahasa yang digunakan tegas, membekas dan memuat bahasa filsafat praktis dalam memainkan logika.
  4. Menyampaikan ide dengan qaulan layyinan/perkataan yang lembut (QS. Thaha/20: 43-44); adalah bahasa kepada penguasa, pejabat atau atasan yang otoritarian, bahasa yang digunakan bersifat sindiran halus, menyentuh, dan tidak menjatuhkan harga diri serta memakai bahasa yang cantik.
  5. Menyampaikan ide dengan qaulan maisûran/perkataan yang mudah dipahami (QS. Al-Isra’/17: 28); adalah bahasa kepada masyarakat bawah, baik dari segi status sosial, ekonomi maupun intelektual, bahasa yang digunakan sederhana, lmudah dimengerti, memberi fakta konkrit, bermuatan sugesti dan motivasi yang disampaikan simpatik.
  6. Menyampaikan ide dengan qaulan ma’rûfan/perkataan yang pantas/baik (QS. Al-Ahzab/33: 32); adalah bahasa kepada kelompok yang status sosialnya rawan pelecehan, sentifitas psikologis sangat rentan, bahasa yang digunakan baik menurut kriteria agama, pola hidup sosial dan norma-norma adat. (Yoli Hemdi: 2002)
  1. 2. KETERAMPILAN BERFIKIR (AKAL)
Keterampilan berfikir (akal) adalah keterampilan mempergunakan daya akal. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dalam petualangan dan perenungan mencari Tuhan. Ia memikirkan dan merenungkan setiap fenomena alam yang dilihat secara berulang-ulang, sehingga peristiwa itu diabadikan oleh al-Quran dalam QS. al-An’am/6:76-79 yang artinya sebagai berikut: Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.  Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Selain itu, pada ayat lain juga diceritakan tentang Ibrahim yang mempertanyakan Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaumnya berupa patung seperti yang tertera dalam QS. al-Shaffat/ 37: 87-92 yang artinya: Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?. Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang. Kemudian ia berkata:”Sesungguhnya Aku sakit”. Lalu mereka berpaling daripadanya dengan membelakang. Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?”
Ayat-ayat di atas menunjukkan keterampilan berfikir yang dimiliki seorang Ibrahim ketika memperhatikan alam semesta. Menurut Ibrahim alam semesta ini tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. (Sayyid Quthb: al-Qahirah, 1137). Pencipta inilah yang dicari-cari oleh Ibrahim, sehingga ia selalu mempertajam akalnya dengan mengamati dan memeperhatikan fenomana alam. Selain itu, akal Ibrahim tidak pernah menerima Tuhan-tuhan dan sembahan-sembahan masyarakat yang berupa patung-patung yang mereka buat sendiri. Oleh karena itu, dengan nada sinis Ibrahim bertanya kepada patung mereka: Apakah kamu tidak makan? Karena ia melihat ada makanan yang paling lezat dan buah-buahan yang tersaji di hadapan patung mereka. (Sayyid Quthb: al-Qahirah, 2993). Tentunya patung-patung tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibrahim. Demikianlah orang-orang yang tertutupnya akalnya karena mereka tidak mau melatih keterampilan berfikir seperti yang dilakukan oleh Ibrahim di atas.
Allah selalu mengajak manusia agar terampil berfikir dengan otak dan hatinya sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-’Alaq: 10-14 yang artinya: Seorang hamba ketika mengerjakan shalat. Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran. Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?.  Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?. Tidaklah dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?.
Menurut M. Quraish Shihab kata araiata dengan merangkaikan hamzah pada raita makna katanya beralih menjadi ” beritahu aku”, yang bertujuan mengecam apa atau siapa saja yang disebutkan sesudah kalimat itu.
  1. 3. KETERAMPILAN EKONOMI
Mesir adalah negeri subur yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama al-Aziz. Pada suatu malam, raja bermimpi yang sangat aneh . Ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. (QS Yusuf/12: 43) Mimpi tersebut menggelisahkan perasaannya, sehingga ia berusaha mencari tahu apa takwil mimpinya. Kemudian raja disarankan oleh seseorang yang pernah ditakwilkan mimpinya oleh Yusuf, untuk menanyakan hal yang sama kepada Yusuf. Yusuf ketika itu adalah seorang narapidana. Kemudian Yusuf memberitahukan bahwa mimpi raja adalah petunjuk bahwa akan terjadi masa subur selama tujuh tahun, kemudian tujuh tahun berikutnya akan terjadi kemarau dan paceklik yang panjang.
Menghadapi suasana sulit yang akan akan terjadi, akhirnya raja mengangkat Yusuf sebagai pegawai tinggi kerajaan dan meletakkannya pada jabatan Menteri Keuangan Negara.  Dalam al-Quran juga dijelaskan bahwa Nabi Yusuf as mengajukan permohonan agar diberi kesempatan untuk menangani urusan tersebut. Yusuf berkata: jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir) sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan. (QS. Yusuf/ 12; 55)
Sebagai Menteri Keuangan Negara, Yusuf yang baru berusia 30 tahun bertugas me-manage persediaan sembako kerajaan Mesir. Yusuf menjalankan amanah tersebut dengan pengetahuan dan hikmah yang sudah diajarkan Allah kepadanya. Yusuf muda ternyata sangat cekatan dan terampil serta jujur dapat melaksanakan tugas tersebut.
Selama Nabi Yusuf as menjadi Menteri Keuangan Negara, ia mampu membangun ekonomi rakyat menjadi kuat, kokoh, sehingga negara Mesir semakin makmur. Yusuf membuat stok pangan nasional untuk menghadapi tujuh tahun ke depan dalam musim panas dan peceklik. Persediaan negara cukup untuk mengantisipasinya, sehingga rakyat Mesir tidak mengalami kesulitan ekonomi selama masa itu.
Strategi yang digunakan oleh Yusuf as. telah diceritakan dalam QS. Yusuf/12: 47-48 yang artinya: Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
Ayat di atas menceritakan bahwa Yusuf  menyarankan kepada masyarakat agar bercocok tanam dan meningkatkan produksi pertanian selama masa subur. Selain itu juga dianjurkan agar mereka berhemat dan menyimpan sebagian pendapatan pertaniannya sebagai cadangan dan persiapan untuk mengahadapi masa berikutnya. Hasil panen tersebut biarkan ia tetap pada bulirnya, supaya tahan terhadap serangan ulat dan pengaruh udara (perubahan cuaca). Pisahkanlah dari bulirnya secukupnya untuk dimakan, dan simpanlah sisanya untuk cadangan tahun-tahun berikutnya yang akan dilanda paceklik.
Sayyid Quthb mengomentari ayat tersebut dengan mengatakan: Krisis yang menimpa Mesir didahului dengan masa melimpahnya kekayaan membutuhkan kemampuan dalam menjaga, memelihara, dan me-manage berbagai urusan secara cermat. Untuk mengendalikan penanaman dan hasil panen, serta menjaganya dengan baik dibutuhkan keahlian, pengalaman, kemampuan mengatur dan berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan tugas-tugas tersebut. Keterampilan tersebut dimiliki oleh Yusuf sehingga ia mampu memikul tugas  tersebut dengan baik dan mengeluarkan penduduk Mesir dan sekitarnya dari persoalan yang mereka hadapi. (Sayyid Quthb: 2003, 2014)
Seandainya Yusuf bukan seorang yang terampil di bidang ekonomi, tentu tujuh tahun pertama tidak mampu mengelolanya dengan baik dan dengan disiplin yang tinggi, maka akan terjadi kebocoran di mana-mana, akibatnya tidak dapat dihilangkan kesulitan bagi rakyat Mesir dalam mengahadapi paceklik yang demikian lama dengan kebutuhan masyarakat yang demikian besar. Keahlian dan keterampilan Yusuf, ia dapat mengatasi semuanya dengan baik. (Shalahuddin Hamid, 2003, 61)
4.  KETERAMPILAN BERPERANG
Untuk membela dan mempertahankan komunitas muslim yang baru terbentuk terjadilah peperangan demi peperangan, seperti perang Badar dengan pasukan yang tidak berimbang antara kaum Quraisy yang berjumlah 1000 orang di bawah pimpinan Abu Jahal versus 313 dan orang muslim dengan pimpinan Hamzah ibn Abdul Muthalib yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah.
Pasukan muslim selalu memperlihatkan keberanian dan keterampilannya di medan perang dengan harapan syahid karena Allah. Di antara shahabat Rasulullah yang terkenal dengan ketangkasan dalam perang adalah Khalid bin Abdul Walid yang dapat julukan pedang Allah disebabkan kecakapan, dan keterampilannya mengahadapi lawan.
Khalid bin Walid keluar sebagai pemenang yang belum pernah dicatat sejarah sebagaimana digambarkan QS al-Baqarah/2: 249 yang artinya ”Betapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Keterampilan berperang yang diperankan oleh Khalid ibn Walid bukan tidak punya perhitungan dan membabi buta. Jumlah pasukan yang sedikit, terampil dan sabar bahkan itu akan dapat membentengi nyawa ribuan umat Islam lainnya.
Kuda dan persenjataan perang adalah media yang sangat penting di samping mental prajurit, sebagimana yang disebutkan oleh QS al-’Adiyat/  ;1-3 yang artinya: Demi (kuda) yang berlari kencang terengah-engah dan mencetuskan api, menyerang dengan tiba-tiba di wkatu pagi, maka ia menerbangkan debu dan menyerang ke tengah kelompok. Hal di atas menggambarkan keterampilan seorang menggunakan media dalam mencapai sasaran.
KESIMPULAN
Keterampilan sangat penting dikuasai dalam pekerjaan, baik pekerja yang dapat membutuhkan tenaga ataupun fikiran. Keterampilan adalah seni dalam melakukan suatu pekerjaan, dengan begitu aktifitas yang diemban akan terasa indah dan menyenangkan, serta tidak membosankan sehingga dapat mengantarkan seseorang kepada keberhasilan.
Keterampilan itu dapat dimiliki setelah melalui pengalaman yang berulang-ulang, tekun, serta cermat dalam waktu yang relatif lama sehingga sangat erat hubungannya dengan profesionalitas seseorang dalam melaksanakan tugas.
DAFTAR BACAAN
Abdul, M. Tafsir Juz ’Amma, Bandung: Mizan, 1998
Ahmad, M. Abdul Jawwad, Seri Menejemen Islami, Menejemen Diri, Bandung: PT. Syamil Cipta Media, 2004
______________________, Menejemen Rasulullah,(Terj. Nurhasanuddin), Bandung: PT. Syamil Cipta Media, 2005
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, t.t.
HS. Fakhruddin, Eksiklopedi Al-Quran, tt: tp, 1992
Husain Muhammad, Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: PT Inter Nusa, 1996
Hamid, Shalahuddin, Kisah-kihas Islami, Jakarta: PT Inti Media Cipta Nusantara, tt.
Agustian, Ari Ginanjar, ESQ. Power, Jakarta: Arga, 2003
Qthb, Sayyid, Fiy Zhilal Al-Quran, Al-Qahirah: Dar al-Syuruq, 2003
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah: Pesan dan Kesan dan Keserasian Al-Quran, Jakarta: Lentera hati, 2003
Sumadi, Surya Subrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar